Tuesday, September 8, 2009

Nikmatnya jilat kemaluan lubang pantat tante nakal

Seperti yg sebelumnya saya critakan, Tante Vivi menyuruh saya datang malam ini
kerumahnya. Sebenarnya agak malas juga en khawatir, bagaimanapun saya lebih
senang mengajak Selva untuk menemani, ini membuatku ragu2 untuk berangkat.
9.15 malam ...... : aku masih ragu2 ..... berangkat ... tidak ... berangkat ...
tidak ...
9.25 malam ....... : akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar2 menelpon, kebetulan
aku sendiri yg menerima.
" Lho ... Ar ...kok kamu belum berangkat, bisa dateng nggak Ar ??... ", tanyanya
kendengaran agak kecewa.
" Mmmm ... gimana ya Tante ... agak gerimis nih disini ...", sahutku beralasan.
" Masa iya Ar ... yaah ... kalo gitu tante jemput aja yaa ...", balasnya seolah
tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.
" Waah ... nggak usah deh tante ... okelah saya kesana sekarang tante ... mmm
Selva saya ajak ya tante ....", sahutku kemudian. Aku pikir kesana malem2 mau
nggak mau akhirnya pasti harus nginep. Kalo ada Selva kan aku nggak begitu
risih, masa aku bawa Selva pulang malem2. Tapi ......
" Iiiih ... jangan Ar ... Selva jangan diajak ... mmm pokoknya kesini aja dulu
Ar ...yaaa ... tante tunggu ...Klik", sekali lagi seolah disengaja tante Vivi
langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia ngerjaiku apa, ngapain malem2
kesana kaya nggak ada waktu siang atau pagi kek ... . Aku jadi kesel, ngapain
Selva kemaren crita kalo aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueeek ... kaya
pakar wae ... sekarang baru kena getahnya.
Akhirnya rada-rada kualat, malam itu benar2 agak gerimis, badanku sampe
kedinginan terkena rintik air gerimis malam yg adem.
Sekitar pukul 10.00 malam .... : aku sampe juga di tempat Tante Vivi, suasana di
komplek perumahan itu sudah sangat sepi sekali, aku membuka pintu pagar yg
sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya udah mengetahui
kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
" Aaahhh ... akhirnya dateng juga kamu Ar ... ", katanya ramah dari balik pintu
depan.
" Iya ... tante ...", sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah
kesal, udah dateng malem2 kehujanan lagi.
" Agak gerimis ya Ar ...", tanyanya seolah tak mau tau.
Hsiiiiii .... Tanpa sadar aku terbersin.
" Eehhh ... kamu Flu Ar ... ", tanyanya kemudian. Aku mengusap wajah dan
hidungku yg setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku
masuk kedalam dan menutup pintu. Klik ... sekaligus menguncinya. Aku tak begitu
memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yg terasa agak
meriang. Kuusap berulang kali wajahku yg adem ... lalu tiba2 kurasakan sebuah
telapak tangan yg hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.
" Pipimu dingin sekali Ar ... kamu pasti masuk angin yaa ... tante bikinin susu
jahe anget yaa ...", sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu
begitu dekat sekali dengan mukaku. Duh ... cantiknya. Kulitnya yg putih mulus
dan halus, matanya yg hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yg hitam
memanjang tanpa celak, hidungnya yg kecil mbangir, dan bentuk bibirnya yg
menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali
bibirnya.
Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.
" Kamu duduk dulu Ar ... tante kebelakang dulu ...", sahutnya pelan. Tanpa
menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang
tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yg tingginya mungkin sekitar 160 cm
kelihatan begitu sexy ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yg
berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat
serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada diluar
celana. Baju yg dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yg relatif
panjang, membuat celana jeans yg dikenakannya tertutup sampai ke atas paha.
Namun karena sifatnya yg lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada
bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yg bulat padat
bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bak penari Jaipong.
Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah diatas sofa empuk ruang tamunya. Aku
memandang ke sekeliling ruangan tamunya yg cukup mewah. Lukisan besar
pemandangan alam bergaya naturalis tergantung diatas tembok persis dibelakang
tempat dudukku. Selebihnya berupa lukisan2 naturalis sederhana yg berbingkai
kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik
dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama.
10 menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu Jahe yang masih
kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan
senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.
" Waah ... asiik nih kelihatannya ... wangi lagi baunya ... mmm ..", kataku
spontan.
" Pelan-pelan Ar ... masih panas ...", sahutnya pendek, sambil memberikan
minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk disebelahku. Gimana2 aku
jadi deg-degan juga.
" Gimana kuliah Selva Ar ... kapan nih rencana mau majunya ...", tanya tante
Vivi kemudian.
" Entah tante ... setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan
seluruh asistensi skripsinya. Soal maju Ujian Skripsi saya kurang tau tante ..",
sahutku polos.
" Iiih .. kamu ini gimana sih Ar ... pacarnya sendiri kok nggak tahu, asyiik
pacaran aja yaa rupanya ...", ujar tante Vivi setengah bercanda.
" Aaah .... Tau aja tante ... nggak salah ...", sahutku sambil ketawa nyaring.
" Kamu menyukai dia Ar ...", tanya tante Vivi kemudian, seolah setengah malas
menanggapi candaku.
" Waah ... tante ini gimana sih ... ya jelas dong tante ... lagipula sekarang
kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini ... saya mencintainya tante ...",
sahutku sedikit serius. Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yg putih bersih
terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yg tak terlalu lebar.
" Nggak Ar ... tante khan cuman nanya ... soalnya tante lihat Selva sayang
sekali sama kamu ...", ujarnya kemudian.
" Jangan kuatir deh tante ...", sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput
wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat
manis di lidah dan kerongkonganku.
" Komputernya di taruh mana tante ...", tanyaku tanpa memandangnya sambil terus
seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.
" Tuh ... dikamar kerja tante ...",sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan
minuman dan memandang tante Vivi yg berada disebelahku ...
" Lalu tunggu apalagi nih ...", ujarku setengah bercanda.
" Apanya ....??", tanya tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya
kelihatan sedikit bingung.
" Lhoh ... katanya pengen diker ... eeh diajarin ...", lanjutku. Hampir aja aku
kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampe kaget sendiri dagdigdug nggak karuan.
Untung nggak kebablas angine.
" Oooh ...iya ..aduuh tante sampe kaget .... Yuk ke kamar Ar...", sahutnya
sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yg ia
maksud. Kami melintasi ruangan tengah yg lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah
meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51
inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada disebelah kiri
ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan disebelah kanan yg pintunya
sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.
" Masuk Ar ... sorry ruangannya agak berantakan ...", ujarnya sambil memberi
jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti tante Vivi. Ruangan atau kamar itu
cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada
sedikit acak-acakan karena diatas lantai persis didepan tempatku berdiri yang
terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah
wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini. Didepannya ada sebuah meja
kerja yg cukup besar, dan diatas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan
agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yg
aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yg berbentuk kotak
itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok kesebelah kiri,
waah ... ternyata disitu terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya
jelas Spring Bed yg terlihat dari ukurannya yg tebal, tertutup dengan sprei
berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi disisi kiri dan kanan tempat
tidur. Disebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat
mini stereo.
" Waduuh ... ini tempat kerja apa kamar tante ...?", tanyaku heran dan kagum.
Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yg
berukuran 3x4 meter aja menurutku udah gede, apalagi sebesar ini.
" Dua-duanya Ar ... ya kamar kerja ya ... tempat tidur ...mmm ... tante khan
cuman sendirian dirumah ini Ar ...", sahut tante Vivi yg berada disebelah
kananku.
" Sendirian ... maksud tante ?...", tanyaku kepadanya tak mengerti.
" Lhoh ... apa Selva nggak pernah bilang sama kamu ... tante khan ... sudah
bercerai Ar ...", sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yg
diucapkannya sedikit terpatah-patah.
Astaga... seruku dalam hati. Pantas ...seolah baru menyadari. Selama ini aku tak
pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami tante Vivi ini. Jadi selama ini
tante Vivi itu seorang Janda. Ya Ampuun ... kenapa aku tak menyadari sejak
semula. Semenjak pertama kali aku datang kesini bersama Selva, memang aku tak
melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya
sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sorangan yg
menyambutku. Jadiii ...... emaaaaaaaaakkk ....hatiku jadi setengah grogi juga.
Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yg pernah aku baca
tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal sex. Pada
umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu.
Jangan-jangan ...... pikirku mulai ngeres lagi.
" Oooh ... maaf tante saya baru tahu sekarang ...", ujarku lirih sejenak
kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.
" Udahlah Ar ... itu masa lalu ... nggak usah diungkit lagi ...", ujarnya
setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua
matanya yg indah. Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari
tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih didepanku. Kemudian ia berjalan
kedepan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yg masih berserakan
diatas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.
" Sini Ari bantu tante ...", kataku pendek. Tanpa menoleh kearahnya aku langsung
nimbrung mengumpulkan majalah yg masih tersisa.
" Iiih udah Ar ... nggak usah ... kok kamu ikutan repot ...",sahutnya. Kali ini
wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yg ranum setengah terbuka
menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2
detik.
" Tante nggak menikah lagi ...???", tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget
juga aku dengan pertanyaanku, jangan2 ia marah atau sedih kembali. Namun
ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.
" Siapa yg mau sama aku Ar ...?"
" Aaah ... Ari kira banyak tante ..."
" Siapaa ...?"
" Ari juga mau tante ...", kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia
mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus
mendorongku kesamping.
" Hik ...hik ... kamu ini ada-ada aja Ar ... jangan nyindir gitu dong Ar,
memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang ... ", ujarnya. Lalu kulihat ia
terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun
sambil memegangi majalah.
" Kenapa tante ... ", tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar
pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.
" Sudahlah Ar ... jangan bicara masalah itu ...". Akupun tak mengubernya walau
sebenarnya masih penasaran apa yg sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.
Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk
merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Buid Up
sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input,
tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker
aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt ... udah beres.
" Udah beres tante ... mmm ... mau sambung ke internet ...?", tanyaku puas. Agak
keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.
" Aaah masa ...?, secepat itu Ar ...?", tanya tante Vivi yang sejak tadi juga
tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja..
" Lha ... iya ... gampang khan ...", sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya
yang setengah melongo seolah tak yakin.
" Makanya dicoba dulu dong tante ... biar nggak nanya2 lagi ... mana nih stop
kontaknya ", tanyaku kemudian.
" Iiih ...hik ...hik ...gitu aja sewot ... jahat kamu Ar ... hik ...hik ... ehem
..itu ada dibelakang meja sebelah bawah Ar ...", jawabnya sambil setengah
tertawa kecil.
Aku melongok ke bawah meja ... astaga dibawah situ berarti mestinya aku harus
merangkak disitu ..., sejenak aku melongo.
" Kenapa Ar ...?"
" Ooh nggak papa tante ..". Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak
masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik
kabel power CPU nya ke bawah. Pengap juga dibawah disitu karena memang agak
remang, maklum penerangan dikamar ini hanya cuman menggunakan sebuah lampu
bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat dibawah sini. Sedang lampu meja
kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop
kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan
astaga ...... aku terhenyak kaget karena melihat tante Vivi ikut juga melongok
membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan
vulgar yang luar biasa indah ...woow .. tante Vivi dengan posisi tubuh seperti
itu membuat baju kemejanya yg sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yg
sangat lemas membuatnya jadi melorot kebawah pas dibagian dada, apalagi kancing
kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yg sangat besar
dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka berdaun sirih ...
diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas ... jelas betul
cing ...betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok
dan kencang ... alamak ... samar kulihat kedua putting mungilnya yg berwarna
merah kecoklatan ... yaa aammpuuunn ... bisikku lirih tanpa sadar... ia nggak
pake Behaaaaa ....
Tante Vivi semula tak menyadari apa yg terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5
detik saja ... bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia
menjerit lirih ...
" Iiiiih .....", serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya
reflek menarik bajunya sampai keatas leher, setengah pucat ia memandangku lalu
berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah terlanjur, percuma kalo malu, akhirnya
dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri dihadapannya, sambil senyam-senyum
seolah nggak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.
" Maaf Tante ... sa ... Ari nggak sengaja ...",ujarku cuek. Tante Vivi masih
dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan
memerah.
" Sudahlah ... Ar ...", sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat
tontonan susu gede gratiss ...
Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari tante Vivi
tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha
menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak
waktu, bagaimanapun aku jadi nggak enak juga karena hari sudah semakin malam.
Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.
" Sudah malem Tante ... besok-besok khan masih bisa belajar tante ... mmm
sekarang saya pulang dulu ya tante ...", kataku sambil setengah berjalan hendak
keluar kamar.
" Iya deh ...waah ... makasih ya Ar ... kamu pinter sekali mmm ... tante gimana
harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar ... hik ...hik ..", tanyanya sambil
tertawa kecil.
" Aaah ... tante ini ada-ada aja ... udah deh ... udah malem tante ...", jawabku
sambil berjalan keluar, tante Vivi mengikuti dibelakangku. Kami terdiam sejenak.
Sambil berjalan aku tersenyum ... gilaaa ... tante Vivi begitu baik dan sopan,
ternyata tak seperti yg aku duga ... he ... he ... dasar otak ngeres ... bisikku
dalam hati.
Dipintu depan ... sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku
menyalaminya tangannya yg halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan,
ketika tiba-tiba seekor spider hitam yg cukup besar dengan kaki-kakinya yg
panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu ......
aduuuhh mak ... sumpah mati kesamber tumpeng terus terang saya paling tidak
tahan melihat laba-laba yg segedhe itu ... reflek tanganku kutarik kebelakang
sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak
tubuh tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan
sigap walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan
kanannya dan kutarik tubuhnya kearahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada
dalam pelukanku. Sweear ... saya memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.
" Aduuh ...Ar ... ada apa sih kamu ..", pekiknya.
" Anuu tante ... laba-laba gedhe ...", sahutku sambil memandang kesekeliling
ruangan, aku bener2 senewen sekali rasanya. Sialaan ... laba2 sialaan ngagetin
orang aja ... bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalo kedua
tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa
merinding.
" Ar ...", bisik tante Vivi ditelingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun
... wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya
yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit
berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk
dalam pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya
yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka ... duh cantiknya. Sejenak
aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan lekuk
wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat kemesraan dan
kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya
... kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku
mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku diluar
kesadaran, ... dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi
yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku
menikmati kelembutan bibir hangatnya ... terasa maniss. Selama kurang lebih 10
detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan
ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka .....
" Oooh ....", bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan
perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi
dengan sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari
kalau Tante Vivi sama sekali tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yg aku
lihat betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang
putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang
redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan
merekah basah menawan hati.
" Tan .. te ... apa yg kulakukan ...", bisikku masih setengah tak percaya atas
sikapku barusan kepadanya.
Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona kemarahan di wajahnya yang
cantik. Ia hanya tersenyum setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami
berdua terdiam ... hening dalam pikiran masing2.
Kali ini aku benar2 malu pada diriku sendiri, terlalu gampang mengumbar perasaan
kepada setiap orang ... aaahh tetapi ... kenapa ada sesuatu yg lain pada tubuhku
... sesuatu yg aku begitu sangat mengenalnya ... astaga ... aku merasa batang
penisku telah ngaceng .... Teng ... teng ... gilaa begitu cepatnya batang
penisku mengeras dan mendesak celana dalamku seolah ingin berontak keluar.
" Sudahlah Ar ... ", bisik Tante Vivi lirih, memecah keheningan itu. Aku
tersadar pula.
" Maafkan Ari tante ... sa ...saya ... teringat Selva tante ...", sahutku
setengah gugup.
Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan kukecup semakin
indah menawan membentuk senyuman mesra.
" Kamu rindu Ar ... sama dia ...", tanyanya seolah melupakan peristiwa yang
barusan. Aku sedikit bernapas lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah.
Aku tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa meredam rasa maluku.
" Eehh ... iya tante ...", sahutku beralasan.
" Ya sudahlah ...nggak pa-pa Ar ...", sahutnya enteng. Mau tak mau aku jadi
bingung juga melihat sikapnya. Semudah itukah. Mencium seseorang yg bukan
apa-apanya secara disengaja, itu nggak apa-apa ???.
" Tante nggak marah ...???", tanyaku balik. Entah kenapa aku seolah diatas angin
melihat sikapnya dan seolah timbul keberanianku.
" Nggak Ar ...", jawabnya sambil tetap tersenyum manis. Kedua matanya
memandangku dengan sejuta arti. Dalam pandanganku wajahnya kelihatan semakin
bertambah cantik dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang
terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan cerita pengalaman orang lain
plus pengalamanku sendiri, apalagi soal perilaku sex. Sikap tante Vivi seperti
itu seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku berpikir cepat, menimbang ...
dan memutuskan. Sampai disitu jalan pikiranku menjadi buntu ... yang ada
hanyalah ... nafsu ...
Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, kuraih tubuh tante Vivi yang
masih berada dihadapanku dan kubawa kembali kedalam pelukanku. Benar saja ... ia
sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah lemas saja tubuhnya yang seksi
montok itu berada dalam dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan
memandangku pasrah dan tetap dengan senyum manis bibirnya yang kian menggoda.
Kedua pipinya kelihatan semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin
terpana ...
" Apa yang ingin kau lakukan Ar ...", bisiknya lirih setengah kelihatan malu.
Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa sedikit gemetar memendam
sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada diatas
pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil
kuberbisik ...
" Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan ...", bisikku pelan. Jiwaku telah
terlanda nafsu. Telah kulupakan bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri ...
setan-setan burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.
" Kau yakin Ar ...", tanya tante Vivi lirih. Ooh ... desakan kedua buah
payudaranya yang besar pada dadaku membuat batang penisku semakin ngaceng tak
terkira ...
" Yaa ...tante ...", sahutku tanpa mengerti maksud pertanyaannya. Dengan cepat
aku sudah membayangkan keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan
payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit tubuhnya dan ... aahhh bukit
kemaluannya yang besar ............ woowww ... ale ...ale ... alee ..
oohhhhh ....tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan beningnya,
aku merasa seolah telah memasuki liang vaginanya ...
Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal
padat dari balik celana jeans ketatnya.
" Oouuuhhhh ... ", tante Vivi mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak
bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu sex-ku saat itu terasa sudah
diubun2 namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya.
Hanya setan-setan burik sialan itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian
tante Vivi dan memperkosa sepuasnya ....
" Aaah ... ki ..kita ke kamar Tante ...", bisikku semakin bernafsu. Lalu dengan
gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara
bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu
indah ... seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi. Kedua jemari tanganku masih
mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yg bulat
padat dan kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak bergerak terlalu jauh, walau
sebenarnya hatiku begitu ingin sekali meraba selangkangan atau meremas
payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan romantis. Bahkan kecupan
bibirku padanya kulakukan selembut dan semesra mungkin, aku kira Tante Vivi
sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut
bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah
atas. Oooh ... terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan
dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yg kecil mbangir beradu mesra
dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan tante Vivi telah melingkari leherku dan
jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.
Batang penisku terasa semakin besar dan mendesak liar didalam CD ku. Teng
...teng ... teng ... aku mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh
kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku yang menonjol dari balik
celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut tante Vivi yang empuk.
Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku telah mengalahkan
segala-galanya. Keyakinan dan akal sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran
nafsu. Kenikmatan sex yg pernah kurasakan bersama Dina telah membuatku semakin
lupa diri. Seolah menemukan daging segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan
pagutan bibirku pada bibir Tante Vivi. Aaaah ...wajah cantiknya itu kelihatan
semakin berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh liurku merekah indah. Begitu
ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola matanya sedikit redup dan memandangku
pasrah. Aku melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot matanya itu. Aku
bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia
pasti jelas sudah tak perawan lagi, ... aku hanya bisa menduga-duga dengan apa
Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini ...
" Aku menginginimu tante ... ", bisikku padanya terus terang. Pikiranku sudah
tertutup oleh nafsu, namun bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak
sendiri. Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk mengontrol keinginan
sex ku yg cenderung vulgar.
" Ooouh ... Ar ... tante juga ingin ....oouhh ..".
Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu, badanku membungkuk dan meriah
tubuh montok Tante vivi dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat
tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja ketika aku mulai
membopong tubuh seksinya itu masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke
dalam kamar. Lengan kanannya merangkul leherku sementara jemari tangan kirinya
mengusap mesra kedua pipi dan wajahku. Tante vivi kelihatan setengah malu-malu
kubopong seperti ini.
" Kamu ganteng Ar ...", bisiknya padaku mesra sambil tersenyum manis.
" Kamu juga cantik Tante ...", balasku tak kalah mesra. Kami berdua sempat
tertawa kecil karena kekanakan ini.
" Ar ... panggil aku Vivi saja yaa ...", ujar tante Vivi padaku. Aku mengangguk
senang.
Didalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari boponganku disisi kiri tempat
tidurnya. Kami berdua saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter.
Aaah ... kunikmati seluruh keindahan bidadari didepanku ini, mulai dari wajahnya
yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan
bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang
lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja,
pahanya yang seksi dan aaah ... kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang
kelihatan begitu menonjol dari balik celana jeansnya ... mmmm ... betapa
nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang vaginanya yang sempit dan
hangat ...mmmm akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku kedalam liang
vaginanya sebagai bukti kejantananku ... oohh .. Vivi ... bisikku dalam hati.
Akan kulumat dirimu dengan kenikmatan.
" Ar ... kamu duluan sayang ...", bisik Tante Vivi, membuyarkan fantasi sex-ku
padanya.
Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia mengetahui apa yang ada dalam
pikiranku kedua jemari tangannya kini berada diatas kedua belah payudaranya
sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua bulatan susunya yang besar
dari balik baju kemejanya. Seolah merangsang dan menggodaku.
Aku tak tahan melihat tingkahnya, andai saja tante Vivi tahu betapa sakitnya
batang penisku yang terjepit didalam CD-ku seolah memberontak ingin keluar. Aaah
... dengan cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dengan cepat
...srrt ...kulemparkan bajuku sekenanya kesamping, pandangan kedua mataku seolah
tak lepas dari tubuh tante Vivi yang semakin menggoda, ... srrt ... kutarik kaos
singletku keatas sampai lepas dan kulempar sekenanya pula. Tak puas sampai
disitu, dengan jemari gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan
menarik turun ritsleting celana panjangku dan sruuut ... langsung turun kebawah
(kebetulan aku mengenakan celana baggy dari katun).
" Oooh ...", tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku yang setengah
telanjang. Kulihat kedua jemari tangannya meremas kuat payudaranya sendiri yang
besar, mulutnya yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam
seakan setengah melotot pula memandang ketubuhku bagian bawah. Sekilas aku
melirik kebawah dan tersenyum geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang
penisku yang sudah ngaceng ... ceng ..itu mendesak hebat keatas sampai kepala
penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam celana dalamku. Begitu besar dan
tebal mendongak keatas persis dibawah pusarku. Kepala penisku kelihatan bengkak
memerah karena ngaceng yang tak terkira. Batang penisku tidak terlalu panjang
memang hanya sekitar 14 centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang
paling membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip sekali dengan milik bintang
film porno "Rocco Siffredi" ... montok dan berurat. Kuusap pelan batang penisku
yang sedang ngaceng nakal itu dari balik celana dalam. Mmmm ... terasa begitu
nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar dan menempel pada jemari
tanganku. Mmmm ... bagaimanapun juga batang penisku ini pernah merobek dan
merenggut keperawanan Dina. Tassss .... Sekelebat bayangan wajah Dina seolah
berada didepan pelupuk mataku. Aku seolah tersadar kembali. Astaga ...aaah ...
apa yg aku lakukan ini??? ... nuraniku seakan menjerit. Sejenak pikiranku
berkecamuk. Dan ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku semakin
menjerit. Aaah ... apa yg aku lakukan Selva ..? Terjadi perang berkecamuk
didalam batinku. Nuraniku mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yg
mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku, namun dilain pihak pikiranku
mengatakan sangat ingin mencumbu dan melampiaskan nafsu sex-ku kepada Tante
Vivi. Sikap tante Vivi bagiku merupakan kejutan besar yg menggairahkan hati. Aku
tak ingin melewatkan kesempatan indah yg tak mungkin dilain waktu akan terulang
lagi. Batinku menjerit namun pikiranku yg dipenuhi nafsu seolah lebih kuat.
Entah berapa lama aku memejamkan mata menanti perang di batinku akan berakhir.
Aku merasa imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh dengan gejolak
birahi terlalu begitu perkasa.
Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante Vivi sudah tak berada
dihadapanku lagi. Semula aku sedikit heran, lalu insting aku menoleh kesamping
kiri dan .... Astagaaaa .... mataku terbeliak kaget menyaksikan pemandangan
indah yang begitu luar biasa ... begitu mempesona ... begitu menggairahkan ...
begitu aahhh ......... jabaang babii
Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Tante Vivi yg kini
ternyata telah berada diatas pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa
begitu putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, jauh lebih putih
dari tubuh Dina ... memamerkan semua keindahan, kemulusan dan kemontokan
lekak-lekuk tubuhnya yg bak gadis usia remaja. Tante Vivi sambil tersenyum manis
kearahku rebah terlentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan
seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang. Kedua buah dadanya yang ternyata
memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor,
membentuk bulatan indah bak buah semangka berdaun sirih. Kedua puting susunya
yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung keatas seolah menantangku untuk
segera kujamah. Begitu pula perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa
lipatan lemak, menandakan Tante Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku
menelan ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata tak memiliki
sehelai rambutpun. Rupanya tante Vivi telah mencukur habis bulu jembut
kemaluannya yang kemaren sempat kulihat begitu sangar dan vulgar. Oooohhh ...
tanpa terasa mulutku mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluannya
yang besar. Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat kemaluan wanita dari
keturunan tionghoa. Belahan bibir kemaluannya yang sangat putih mulus walau
sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil mulai
sekitar 6-8 centi dibawah pusar yang terbelah dibagian tengahnya sampai ke
selangkangan bagian bawah diatas lubang duburnya yang hitaman kecoklatan. Labia
Mayoranya yang sangat merangsang itu terlihat masih saling menutup rapat satu
sama lain meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua pahanya,
seolah menyembunyikan liang vaginanya yang memang sangat terlarang. Ini berarti
liang vaginanya pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak perawan lagi.
Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk dari kedua belah labia mayoranya
itu aku sedikit dapat melihat dan menduga betapa merahnya liang vagina miliknya.
Batang penisku yang semula agak lemas kini langsung kembali perkasa. Dengan
cepat kurasakan kepala penisku kembali mendesak keatas melongok keluar dari
celana dalam seolah ingin mengintip apa yg sedang terjadi dihadapanku dan
membuatku takjub.
Oooohhh ... Vivi ...bisikku lemah. Batinku seolah menyerah kalah ... maafkan aku
Selva ... aku sangat mencintaimu ... tapi ini hanyalah sex ...bukan cinta.......

Lalu kreekkk .... Dengan gemas kurobek celana dalamku yg terasa kecil bagi alat
kelelakianku. Aku sudah tak peduli lagi dengan segala sesuatunya. Tooiiingg
..... batang penisku yang ngaceng itu langsung mengacung keluar setengah
mengarah keatas sambil manggut-manggut naik turun menyetujui pikiranku yang
ngeres. Aku sedikit heran juga menyaksikan batang penisku yg kelihatan sedikit
lebih besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku yg terlihat begitu
nanar dan mekal berwarna kemerahan saking ngacengnya. Urat-urat diseluruh
permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua membentuk guratan-guratan
kasar setengah melingkar. Teng ... teng ... teng ... rasanya alamak. Ambooi ....
nano-nano ...
Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya menyaksikan kesemua itu,
perlahan-lahan aku mulai naik keatas pembaringan menyusul Tante Vivi yang sudah
menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai dipipi tante Vivi
tersenyum manis memamerkan keindahan bibir dan gigi2nya yang putih menawan.
Matanya seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit terdengar kurang
teratur menandakan ia sedikit tegang atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu
birahinya.
" Vivii ...", bisikku penuh nafsu. Setengah dagdigdug kubaringkan tubuhku persis
disebelah kanan tubuhnya yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik mempesona,
lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah pipinya yang halus. Tante
Vivi tersenyum manja padaku.
" Ar ... beri aku kenikmatan ...", bisiknya tanpa malu-malu. Sorot matanya
terlihat lemah seolah memohon. Aku tersenyum penuh gairah.
" Aahhhh Vivi ... aku akan memberimu kepuasan ... aahhh ... kau lihat penisku Vi
... dia yang akan memberimu kenikmatan ...", bisikku nakal. Tante Vivi mau tak
mau melirik ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan keras saking
ngacengnya.
" Iiiiihh ...hik ..hik ... kau nakal Ar ... ooohhh .... Sssssshhhhh ....
lakukanlah sekarang Ar...", tiba-tiba ia berbisik sedikit keras. Aku terkaget
heran ...
" Sekarang tante ...?", tanyaku heran, sedikit kurang sambung.
" Yaaa ... sekarang Ar ... naiki aku ... masuki tubuhku sekarang ....sssshhhh
....", bisiknya semakin keras. Sembari jemari tangan kirinya memegang lenganku
mengajak untuk ... eng ing eng ...
Astagaaa ... tante Vivi begitu bernafsunya sampai tanpa sungkan2 lagi memintaku
untuk segera menyetubuhinya. Namun sebenarnya aku masih ingin mencumbunya
terlebih dulu, menikmati kehalusan kulit tubuhnya, meremas-remas dan menghisap
kedua puting susunya sampai puas dan yang paling aku gemari adalah pasti
mencumbu alat kelaminnya sampai ia orgasme seperti yang sering aku lakukan
terhadap Dina. Terus terang aku sudah tergila-gila pada alat kelamin wanita.
Setiap akan bersenggama dengan Dina tak pernah sekalipun aku mengawali
persetubuhan tanpa terlebih dahulu aku mencumbu alat kewanitaannya sampai Dina
orgasme berulang-ulang. Baru setelah Dina lemas kehabisan tenaga setelah melepas
kenikmatan, aku baru memasukkan batang penisku kedalam liang vaginanya yang
sempit dan licin terkena muntahan cairan orgasmenya, mengocoknya didalam situ
sampai air maniku muncrat enjakulasi.
" Kita bercumbu dulu tante ...", bisikku merasa diatas angin. Aku bisa menduga
mungkin Tante Vivi terlalu lama menahan keinginan sexualnya sampai begitu
kesempatan untuk itu ada ia sudah tak mampu menahan gejolak birahinya yg sekian
lama tertahan.
" Aaaahh ... kita lakukan sekarang saja Ar ...", bisiknya seolah setengah
memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun. Kuperhatikan jemari tangan kirinya kini
telah berada diatas selangkangan mengusap-usap bukit kemaluannya yang montok
merangsang. Astaga ... rupanya tante Vivi sudah tak tahan lagi .....
Aku tersenyum penuh gairah, aku tahu liang vaginanya pasti sudah gatal karena
sekian lama tidak dipakai. Beruntung sekali suami Tante Vivi dulu yang pertama
kali mencicipi dan menikmati keperawanannya ... pasti luarbiasa nikmat saat
pertama kali menembus liang vaginanya yang sempit. Mmmmmm ... aku jadi tak tahan
karena teringat saat pertama kali batang penisku memasuki liang vagina Dina dan
merobek selaput keperawanannya. Adalah saat terindah bagi seorang laki-laki
ketika memuntahkan air maninya dengan sepenuh rasa nikmat kedalam liang vagina
seorang wanita yang masih perawan. Saya telah mengalami hal itu dan memang luaar
biasa nikmat .... Dan kini mungkin saatnya bagi saya untuk menikmati liang
vagina seorang janda ... mmm ... pikirku ngeres.
" Kau yakin Vi ... kita tidak bercumbu dulu sayang ...", bisikku gemas.
" Ar ... kamu nakal ...", sahut tante Vivi padaku, wajah cantiknya kelihatan
memelas. Aku jadi geli baru pertama kali ini aku melihat seorang wanita dengan
nafsu sex sebesar Tante Vivi, sampai memelas-melas seperti ini. Tapi aku maklum
karena mungkin Tante Vivi telah ngempet tidak berhubungan sex bertahun-tahun.
Mana tahaaaannnn .........
Tapi bagaimanapun aku berpantangan untuk tidak langsung menyetubuhinya. Tante
Vivi bukanlah ayam betina yang langsung saja bisa digagahi. Aku ingin memberinya
terlebih dahulu sensasi2 sex terindah pada seluruh sekujur tubuhnya sampai ia
benar-benar merasakan puncak sekaligus akhir dari pendakian indah sebelum
memasuki tahap persetubuhan untuk mencapai kenikmatan sesungguhnya. Walaupun
sebenarnya aku mau saja langsung menggagahinya dan memuasinya dengan cepat, tapi
bagiku itu tiada berkesan selain merasakan kenikmatan sesaat.
Dan seolah bagai mimpi saja ketika akhirnya dengan sigap aku telah berada diatas
tubuh tante Vivi yang telanjang bulat dan menindihnya gemas.
Aaaaahhh ....
Oooouuuhh ....
Kami berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh kami saling
bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Aku tak pernah menyangka bisa
meniduri bidadari secantik Tante Vivi. Batang penisku yang ngaceng seakan kena
setrum saat menyentuh bukit kemaluan tante Vivi yang halus dan sangat empuk.
Maklum bukit kemaluannya memang relatif sangat besar dan montok. Jauh lebih
montok dibanding milik Dina. Dengan nakal kepala penisku menyelip diantara bibir
kemaluannya yang rapat. Mmmm ... terasa begitu nikmat saat kulit kepala penisku
menggesek daging celah labia mayoranya dan menyelip ke dalam. Tante Vivi mungkin
mengira batang penisku ingin memasuki liang vaginanya, karena begitu kepala
penisku menyelip diantara labia mayoranya kurasakan ia membuka kedua pahanya
lebar-lebar. Aku merasa betapa begitu halus kulit kedua belah pahanya yang
langsung mengapit pinggangku lembut. Sengaja aku tidak menekan pinggulku terlalu
kebawah untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kepala penisku sampai terdorong
kebawah memasuki liang vaginanya, walau aku sebenarnya juga bisa menduga pasti
tidak mudah bagiku nanti memasukkan alat kejantananku kedalam liang vaginanya.
Kalau benar Tante Vivi sudah lama tidak berhubungan sex ... mmmm ... liang
vaginanya pasti sempit luar biasa ... mmm ... angak hooo ...
Sambil mengusap mesra rambut Tante Vivi yang panjang, mulutku dengan gemas
kembali mengecup dan mengulum bibir tante Vivi yang basah dan hangat. Mmmm
...cuppp ... cuppp ... mulutku secara bergantian mengulum bibirnya yang atas dan
yang bawah. Dengan tak kalah mesra Tante Vivi membalas cumbuanku pada bibirnya.
Sesekali lidahnya dijulurkan keluar untuk dengan segera kuhisap dan kukulum
mesra. Terasa begitu gurih manis lidah dan bibirnya. Sementara bibir kami
bercumbu, kurasakan dua sensasi indah di dua tempat yang paling terlarang pada
tubuh tante Vivi. Pertama diselangkangannya, kedua dibagian dadanya. Mmmm ...
kedua payudaranya yang luarbiasa besar itu terasa begitu kenyal dan padat
menekan nikmat dadaku, kedua puting payudaranya yang lancip seakan menggelitik
kulit dadaku. Kedua jemari tangan tante Vivi yang halus mengusap2 gemas daging
bokongku, berulang kali ia mencoba untuk menekan pantatku kebawah agar batang
penisku segera memasuki liang vaginanya, namun aku bertahan agar pinggulku tetap
setengah terangkat, hanya kepala penisku saja yang sedikit terjepit diantara
labia mayoranya. Mmm ...andai saja pembaca bisa merasakan apa yg kurasakan saat
itu ... oohhh ... butuh suatu kesabaran agar rasa nikmat pada kepala penisku
yang sudah setengah terjepit di bibir kemaluannya itu tidak membuatku berbuat
lebih jauh lagi menuruti keinginan tante Vivi yang sudah ngebet. Sesekali tante
Vivi dengan tak sabar menyelipkan jemari tangan kanannya diantara selangkangan
kami, lalu dengan gemas ia meremas batang penisku dan mengarahkan kepala penisku
yang sudah setengah terjepit disitu kemulut liang vaginanya yang terasa licin
dan buntu, menandakan liang memeknya itu sangat jarang dipakai. Mungkin hanya
mantan suaminya saja dulu. Aku segera menarik pinggulku agak keatas karena
terasa geli-geli nikmat pada batang penisku yang diremasnya. Aku melepaskan
ciumanku pada bibir tante Vivi.
" Aaaoooohhh ... tante geli ahhh ...", erangku setengah keenakan.
" Uuhh ... kamu nakal Ar ...", bisik tante Vivi lirih. Bibirnya yang ranum
kemerahan sangat basah penuh air liurku. Kulihat wajah cantiknya tampak
berkeringat basah. Kelihatan ia sudah sangat ngebet kepingin senggama. Kedua
matanya yg semakin sipit memandangku lemah seolah memelas. Aku kasihan juga
melihatnya.
" Tante sudah kepingin sekali yaaachh ....", bisikku gemas melihatnya.
Tante Vivi tidak menjawab namun jemari tangannya mencubit pinggangku
keras-keras. Aku memekik kesakitan. Aaooooowww ....
Lalu dengan gemas, mulutku kembali melumat bibir ranumnya yang basah, ... hanya
lima detik mulutku melepas bibirnya dan bergerak keatas dan oouuuuuhhhh ...
tante Vivi merintih manja saat bibir dan lidahku dengan gemas mulai menggelitiki
telinga kirinya. Sesekali gigiku setengah menggigit membuat tante Vivi
menggelinjang geli keenakan.
" Nnnngggghhhhh .... Eenngggggghhhh .... Ar ...", pekiknya lirih. Ia sangat
terangsang sekali dengan ulahku. 30 detik kemudian dengan cepat aku menggeser
tubuh kebawah. Kini saatnya bagiku untuk bermain-main dengan kedua buah
payudaranya sepuas mungkin. Kali kurebahkan perutku merapat ke tubuh Tante Vivi,
dan mmmm ... perutku terasa menekan nikmat bukit kemaluannya yg besar ...
sedikit kurasakan kalau bukit kemaluannya itu sedikit agak kasar, seperti bekas
kalo ada rambut yang dicukur. Ambooooi ....
Dari dekat aku dapat menyaksikan betapa luar biasa besarnya payudara tante Vivi,
warnanya begitu putih bersih dan mulus. Kedua puting2 susunya yang kecil lucu
seakan tidak sebanding dengan besar susunya, berwarna coklat kemerahan. Baru
kali ini aku melihat seorang wanita memiliki susu yang sangat besar, selama ini
aku hanya melihatnya di dalam film BF, itupun milik cewek bule. Bahkan jemari
tanganku yang kubuka selebar mungkin masih belum bisa melingkari bulatan kedua
buah susu Tante Vivi yang extra large. Dalam hati ... susu sebesar ini berapa
ukuran BH nya yaah ...., aku jadi makin ngaceng sendiri memikirkannya. Dengan
gemas kedua jemari tanganku yang sudah melingkari kedua buah susunya bergerak
meremas-remas pelan ... woowww ... begitu kenyal, kencang dan hangat.
" Nnngnnggghhhh ....oouuuhhh", tante Vivi memejamkan kedua matanya dan mulutnya
yang basah mengerang keenakan. Aku tersenyum. Nyahook lu ... awas kuperkosa
habis-habisan kau nanti tante ... bisikku dalam hati penuh nafsu.
Aku menunduk dan mulutku mulai menghisap nikmat susunya yg sebelah kiri secara
perlahan. Lidahku dengan gemas menyentil putingnya dan menggigit pelan.
" Aawwww ...nngggghhhh ...", tante Vivi merintih semakin keras. Aku jadi ikutan
terangsang. Mulutku mulai menghisap putingnya sedikit lebih keras dan ...
semakin keras. Kubuka mulutku selebar mungkin, seolah ingin menelan susunya.
Kuhisap sekuatnya susu kirinya sampai pipiku terasa kempot, lidahku dengan ganas
memilin-milin putingnya dengan perasaan geregetan. Mmmm ..nikmatnya .... Pop ...
pop ... berulang kali aku menghisap dan melepaskan hisapanku dengan kuat sampai
berbunyi nyaring. Puas dengan hisapan, lidahku yang basah kujalarkan menjilati
seluruh permukaan payudaranya sampai penuh dan basah oleh air liur.
Tante Vivi bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali memekik dan mengerang
keenakan menikmati sedotan mulutku pada susunya.
" Aawwww ..nggghhhh .....awwww ....". Jemari tangannya tak tahan mengerumasi
rambut kepalaku dengan gemas.
Mulutku kini berpindah untuk menghisap, mengulum dan menjilati susunya yang
sebelah kanan, sementara susunya yg kiri gantian kuremas-remas dengan lembut.
Seperti juga yg kiri, aku mengenyot-ngenyot payudara kanannya membuat Tante Vivi
semakin menggeliat hebat keenakan.
" Aaawww ...Ar ...hu ..hu.... sudah Ar ...nggghhhh ...sudah sayang ...",
erangnya tak kuat menahan rasa nikmat. Aku semakin bersemangat. Kuhisap,
kukulum, kupilin, kukenyot dan kujilati payudaranya yang kanan berulang-ulang
kali tanpa ampun, membuat Tante Vivi berulangkali pula memintaku untuk segera
menyudahi.
" Aaaww ... sudah sayang ... aduuuh ...hu..huu .. nggghhhhh ...k...kau nakal Ar
...", erang tante Vivi sambil tetap mengerumasi rambut kepalaku. Aku tak peduli,
cukup lama sekali aku mengenyot dan menyusu kedua belah payudaranya yg besar.
Mungkin sekitar 10 menitan lebih. Setelah puas barulah aku dapat melihat kedua
buah susunya yang tadinya begitu putih mulus dan bersih itu kini sampai basah
penuh liur, dan disana sini tampak kemerahan bekas hisapan mulutku. Terutama
disekitar kedua putingnya yang kini tampak semakin merah saja, kulihat ada
sedikit guratan merah disitu ... mungkin bekas gigitanku tadi ... gemass sih ...
mana tahaaannn.
Tante Vivi memandangku sayu, kedua matanya sedikit berair dan memerah, bibirnya
gemetar. Wajah cantiknya itu kelihatan sedikit geregetan.
" Kamu benar-benar nakal sekali Ar .... Awas kamu yaa....", bisiknya lirih
padaku seakan ingin membalas dendam. Aku tersenyum padanya, lalu tiba-tiba kedua
jemari tangannya tadi mendorong kepalaku kebawah. Mmmmm ... rupanya Tante Vivi
ingin aku mencumbu alat kemaluannya. Woowww ... ini favoritku malah ...., dengan
sigap aku menggeser ke bawah ... mmm terasa enaak saat perutku menggesek bukit
kemaluannya. Lidahku kujulurkan menjilati permukaan perutnya yg halus dan
sejenak sempat kugelitik lubang pusarnya dengan lidah dan bibirku. Dan ketika
mukaku sampai diatas selangkangannya ..... woowwwwww ... ini dia eee ... yamko
rambe yamko ... alamak indahnya alat kemaluan milik tante Vivi ini. Begitu putih
dan mulus sesuai dengan warna kulit tubuhnya, disana-sini masih bisa terlihat
secara samar kehitaman bekas cukuran bulu jembut kemaluannya. Alat kemaluannya
itu kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah bukit kecil di atas
selangkangannya. Kini dengan jelas aku dapat melihat dari jarak kurang dari 15
centi bibir labia mayoranya yang tebal saling menutup sangat rapat satu sama
lain membentuk lekukan celah sempit memanjang vertikal sampai diatas lubang
duburnya yang kecil berwarna hitam kecoklatan. Liang vaginanya seolah tertutup
rapat tersembunyi oleh ketebalan labia mayoranya itu. Aroma khas bau alat
kemaluannya benar-benar memabokkanku. Hidungku kembang-kempis menarik napas
panjang menghirup aroma nikmat bau alat kelaminnya. Mmmm ... memang aku begitu
menyukai bau alat kelamin wanita. Baunya seharum milik Dina. Namun berbeda
dengan milik Dina yang sedikit lebih kecil bentuknya, alat kemaluan Tante Vivi
yang besar ini dapat kuduga memiliki liang senggama yang lebih panjang dan
dalam. Mmmmm ... pasti daya tampung air maninya pasti banyak sekali. Seolah
mengerti pikiranku, batang penisku yang sudah ngaceng bak pisang raja itu
manggut-manggut pelan mengiyakan walau sudah terjepit diatas kasur. He ... hee
.. aku jadi geli sendiri.
Mmmbbmbhhhfffff .... Tiba-tiba tanpa kuduga tangan tante Vivi menekan kepalaku
kebawah, sehingga tanpa dapat kucegah lagi mukaku langsung nyosor terbenam ke
dalam selangkangannya yang putih merangsang. Hidungku sampai amblas masuk
terjepit diantara labia mayoranya yang tebal. Aku tidak bisa bernapas bebas,
yang kurasakan hidungku hanya bisa menghisap udara bercampur aroma khas bau alat
kewanitaannya yang menyengat dan memabokkan dari sela-sela bibir kemaluannya.
Sementara mulutku yang menekan bukit kemaluannya agak sebelah bawah terasa pas
berada dimulut liang vaginanya. Aku tak menyia-nyiakan. Lidahku langsung
kujulurkan kebawah sepanjang mungkin menyelip dan menembus bibir kemaluannya dan
secara perlahan mulai memasuki liang vaginanya yang terasa sempit dan licin. Aku
kira cairan lendir vaginanya mulai mengalir keluar cukup banyak, terbukti ketika
lidahku yang masuk sekitar 1 centi kedalam, liang vaginanya terasa penuh dengan
cairan lendir yang sedikit amis namun enak dirasakan. Mulutku sampai mengecap
nikmat berulangkali menyedot cairan vaginanya itu. Mmm ... ammbooi rasa asinnya
...
Tante Vivi menggeliat hebat dan mulutnya mengerang panjang keenakan
...pinggulnya terkadang digoyangkan lembut kekiri-kanan dan juga keatas
menikmati cumbuanku.
" Aaaaaagghghhhhh .....nggggnnnhhhhhfff ...... ssshhhhhhh ....Aaaarrr ...",
pekiknya nikmat. Jemari tangannya semakin menekan kepalaku kebawah, membenamkan
mukaku seluruhnya ke bukit kemaluannya.
Dalam posisi seperti ini, mau tak mau membuat hidungku semakin tak bisa
bernafas, hidungku seolah tenggelam terjepit diantara bibir kemaluannya yang
tebal. Bau khas alat kemaluannya terasa makin menyengat. Meski membuatku semakin
terlena, namun aku bisa-bisa mati kehabisan napas juga. Kususupkan kedua jemari
tanganku menyusuri kebawah ke balik bulatan pantatnya yang kenyal dan padat,
tanganku mulai meremas gemas lalu dengan buas kugoyang-goyangkan mukaku mengusap
keseluruh permukaan bukit kemaluan Tante Vivi yang hangat dan empuk. Hidungku
mengambil napas sebentar lalu dengan gairah tinggi kembali kuselipkan diantara
bibir kemaluannya menyentil-nyentil bulatan mungil clitorisnya dengan ujung
hidungku, sementara bibir dan lidahku yang kembali kutelusupkan sekitar 1 centi
memasuki liang vagina sempitnya, menggelitik-gelitik lembut mulut liang vagina
merahnya sembari terus menyedot cairan lendir miliknya yang masih tersisa.
Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras, pinggulnya menggeliat
semakin hebat menahan kenikmatan yang kuberikan pada alat kelaminnya. Aku benar2
puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan kucengkeram kuat bulatan bokongnya
yang kenyal agar jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin melepaskan
pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali sembari menghirup udara segar lalu
lidahku kujulurkan sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan
bukit kemaluan lunaknya yg putih merangsang. Mulutku tak henti2nya mengecup
gemas bukit terlarang milik tante Vivi itu.
" Ooouuuuhh ... nnggggnhhhhnnnnggggg ggghhh .....nggghhhh .....", mulut tante
Vivi merintih2 dan mengerang2 tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya
digoyang-goyang kiri kanan, sesekali kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit
kepalaku sambil mengejan2 kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan cairan
kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya demikian, lidahku yang sesekali
menelusup masuk kedalam liang vaginanya sambil menyentil2 gemas daging
clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang mengalir deras. Sementara
tangan kiriku masih mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan dengan
jemari tangan kananku bibir kemaluannya yg tebal, jemariku itu sampai gemetar
seolah masih tak percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu lunak,
hangat dan basah ketika jemari tanganku secara perlahan menyibakkan bibir
kemaluannya ... mengintip keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang
ternyata berwarna kemerahan. Oooohhh ... kulihat ... liang vaginanya yg terletak
sedikit diatas lubang duburnya, begitu kecil dan terlihat sempit sembari
mengalirkan keluar cairan lendir kemaluannya yang berwarna bening. Ammboooi ...
merangsangnya. Agak disebelah atas liang vaginanya itu kulihat bulatan daging
kecil clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. Aku sedikit
heran, karena liang vagina milik Tante Vivi ini kecilnya hampir sama dengan
liang vagina milik Dina. Aahhhhh ... batang penisku yg sudah ngaceng-ceng nunggu
giliran untuk take over jadi makin cenat-cenut ... teng-teng nggak karuan ...
nggak tahan nih kalau sempitnya seperti ini ... bisa-bisa nggak sampai digenjot
5 menit air maniku udah muncrat keluar ... seperti yg aku rasakan bersama Dina
akhir2 ini. Aku sendiri nggak habis pikir kenapa sewaktu aku dulu memperawani
Dina bisa menahan gesekan dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit, tapi
akhir2 ini bisa tahan nggak muncrat sampai 10 menit saja itu sudah lumayan.
Mungkin saja aku terlalu terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah ...
" A..aarrr .... Lagi sayangggghh ...", tante Vivi berbisik sedikit serak. Aku
sejenak tersadar dari lamunan .... He ..he ... aku jadi geli juga ... disaat
lagi asyik masyuk seperti masih bisa juga aku ngelamun ... ngeres lagi ... he
... he ...
Kudongakkan kepala keatas sambil kupandang wajah cantik tante Vivi yg
berkeringat agak kusut sekilas, lalu kutundukkan muka ... lidahku dengan liar
penuh rasa gemas kembali menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya,
kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat kekiri lalu dengan nikmat mulut dan
lidahku mulai mencumbu, mengulum, memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan
tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti kalau kami berdua berciuman
mulut. Mmmm ... rasanya yg jelas tidak selezat daging hamburger McDonald atau
Wendys tapi yg pasti ada semacam feel great dan sensasi keindahan bercampur
kenikmatan tersendiri yg tak bisa diungkapkan kata2 ... kalo pembaca pengin tahu
rasanya ... coba saja dengan pacar atau simpenan cewek you2 ... terserahlah ...
dan lakukan persis seperti saya ini ... begitu indah rasanya mengulum dan
mengecup bibir kemaluan wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya
dan juga suara erangan nikmatnya.
Mmmm ... aku benar2 bangga membuat Tante Vivi sampai berulang kali mengejan
kebawah menghentakkan kedua belah pahanya yg putih seksi, sambil tak henti2 nya
mulutnya memekik kecil dan merintih panjang menahan geli bercampur sejuta
kenikmatan.
" Aaahhhh ... nnggnggghhgnggghghhhh ..... nggghghnhghgghhhh ....", rintih Tante
Vivi berulang kali.
Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir labia mayoranya dengan
mulutku lalu dengan nakal kembali kusibakkan sedikit lebih lebar bibir memeknya
dan dengan cepat kujulurkan lidahku mengusap lembut celah merah diantara bibir
kemaluannya ... menyentil2 mulut liang vaginanya yg sempit dan mungil beberapa
puluh detik lalu kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante Vivi sampai
menaik turunkan pinggulnya menahan rasa nikmat. Saat bibir dan lidahku secara
bersamaan menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai pipiku sedikit
kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik keras dan akhirnya mendesah panjang ...
pinggulnya sontak diangkat keatas seolah tak kuat menahan rasa nikmat dan
mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat kepalaku dari samping kiri dan
kanan. Jemari tangan kiriku yg kini terasa bebas, mengusap mesra kedua belah
bulatan bokong tante Vivi dan meremas2 lembut.
" Aaaagggggghhhhh .....aoooohhhhhhhhhh ......
ssshhhhhhhhhhhhhhhhhhhghffhhghh...."
Desah tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang meregang menuju puncak
kenikmatan,.... Sedetik .... 2 detik .... 3 detik ... aku merasakan kedua belah
pahanya yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai bergetar lembut dan
mengejan semakin kuat ... menandakan cairan lendir kenikmatannya segera tumpah
keluar ...Orgasmee ...
Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan hisapan mulutku pada daging
clitorisnya dan dengan kuat kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yg masih
menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku merangkak keatas dan rebah
disamping tubuh bugil tante Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua
matanya seolah sedang menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar kenikmatan yang
ia inginkan tak tercapai ...kedua matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot
memandang selangkangannya yang kosong ... dan Tante Vivi mendapati diriku telah
berada disebelahnya sambil kutersenyum penuh kemenangan.
Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan sesuatu, bibir
bawahnya digigit keras seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah
memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum lebar, namun tidak demikian
dengan tante Vivi ... rupanya ia jengkel karena hampir saja aku membuatnya
orgasme namun justru aku malah menghentikannya ditengah jalan ...
" K kkamu ... benar2 nakal sekali Arr .... Hhh. ... teganya kamu sayang ...",
bisiknya dengan bibir gemetar. Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante
Vivi menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas menaiki
tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan kedua belah bokongnya yg bulat padat
terasa begitu kenyal dan tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara bukit
kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan batang penisku yang sudah
sangat ngaceeeng ....oooh ... nikmatnya bok ...
" Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi memandangku seolah ingin
menelanku.
" Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr ...", bisiknya pelan. Aku yang masih
terkaget menyaksikan ulahnya tadi hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan
tubuh montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua buah payudara
besarnya yang mengacung kencang kedepan memamerkan kedua buah puting susunya
yang kelihatan sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.
Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika dengan cepat Tante Vivi
mengangkat pinggulnya yang ramping keatas, kedua belah pahanya yg putih mulus
kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas saat jemari tangan kanan Tante
Vivi menggenggam dan meremas batang penisku ... lalu diarahkan ke bukit
kemaluannya sebelah bawah ... ke depan mulut liang vaginanya ... Oooohhh ... aku
mendesah pelan menyaksikan kesemua itu. Aku tidak menyangka Tante Vivi melakukan
semua itu tanpa perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu ngebet dan
liang vaginanya sudah gatal kepingin disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti
sukar sekali memasukkan batang penisku yang sudah ngaceng dan besar mirip punya
Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua pahaku ke bawah agar tante Vivi tidak terlalu
kesulitan menyetubuhiku nantinya.
Tetapi kali ini aku kecele ... sambil menundukkan wajah yang membuat rambut
panjang nya terurai indah, kulihat tante Vivi sejenak berkutat masih mengarahkan
batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu dengan perlahan pinggulnya
diturunkan.
Ooooggghhhhh .... Aahhhhh ... aku mendelik dan mengerang nikmat saat dengan mata
kepalaku sendiri kulihat bibir kemaluannya yang tebal itu memekar lebar menerima
tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah dan sempit mulai tersibak
dan menjepit ujung kepala penisku yang secara perlahan-lahan mili demi mili
mulut daging liang vaginanya semakin melebar sesuai ukuran kepala penisku dan
mulai menenggelamkannya ke dalam liang vagina tante Vivi.
Ooougghhhhghh .....nngngnghhhaaaaahhhhhh ...pekikku keras menahan rasa nikmat yg
luarbiasa saat kepala penisku dalam 5 detik telah berhasil memasuki liang
vaginanya yang ketat. Aaahh... didalam situ kurasakan daging vaginanya seolah
sudah menjepit sedemikian kuat seolah di-remas2 membuat kepala penisku
ber-denyut2 keenakan.
Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang penisku, kini kedua
tangannya diletakkan diatas dadaku sambil setengah membungkuk untuk menyangga
tubuhnya bagian bawah yg masih melakukan penetrasi. Ia kini memandangku dengan
senyuman manisnya kembali, bibirnya yg ranum merekah indah. Kedua buah dadanya
yang besar dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.
" Enaak .. Arr ...", bisik Tante Vivi tanpa malu-malu padaku.
" I ...iiyaaa tantee ...", sahutku gemetar menahan rasa nikmat.
" Mmm .... Punyamu besar juga sayangg ....", bisiknya lagi. Lalu dengan
perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan pinggulnya kebawah lagi sambil
memejamkan mata. Namun mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut
menikmati apa yg sedang kurasakan sekarang.
" Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhgghhh ..." erangku keenakan saat daging liang vaginanya
yang luarbiasa sempit itu mili demi mili secara perlahan terus menjepit kuat dan
menenggelamkan batang penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi. Dengan
sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat kusaksikan terus proses penetrasi itu,
urat-urat diseluruh batang penisku sampai menonjol keluar membentuk
guratan-guratan kasar disekeliling permukaan penis menahan jepitan daging liang
vagina tante Vivi yang terus berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku
itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi ... dengan tanpa hambatan
berarti walau terasa begitu sesak dan sempit batang penisku melungsur masuk
dengan ritme semakin cepat kedalam liang vaginanya.
" Mmmmmm .....aahhhhh ......mmmm", tante Vivi hanya mendesah dan merintih kecil
saat batang penisku yang besar dengan perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam
kedalam bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang.
Hanya tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih tersisa diluar
liang vaginanya. Kedua mataku sudah merem melek keenakan, kedua pahaku sampai
gemetaran saking hebatnya rasa nikmat itu.
"Ooooowwwww ....."
" Aaaaaghghghhhh ...."
Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat penetrasi yang terakhir
berlangsung. Kulihat sekilas bukit kemaluan milik tante Vivi itu sedikit
menggembung lebih besar karena seluruh batang penisku yang tebal sepanjangnya 14
centi itu telah terbenam kandas didalam liang vaginanya. Ammbooooiii ... betapa
begitu indah menyaksikan dua alat kemaluan milik kami berdua yang telah menyatu
padu. Selain jepitannya yang luarbiasa ketat, kurasakan daging vagina Tante Vivi
yang terasa hangat dan licin itu seolah memijat2 mesra dan menghisap lembut.
Woooooowwwww ... ujung jemari kakiku sampai gemetaran keenakkan.
" MMmmmmmm .... Bagaimana sayang ....", bisik tante Vivi pelan sambil
memandangku mesra sekali.
" Aahhhhhhhhghghg .... Nikmat sek..kali Viii ...", sahutku gemetar.
Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, sementara pinggulnya
menempel selangkanganku dengan ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah
bola zakarku.
" Air maniku ...mau keluar tante ....", bisikku menahan nikmat sambil setengah
menggodanya.
" Iiiihh .... Awas yaa kamu Ar ... ", sahutnya sambil tersenyum. Ia seolah
mengerti batang penisku tidak bakalan lama bertahan dijepit liang vagina
miliknya seketat itu.
" Ar ... tante sudah lama sekali nggak melakukan ini .... Mmm ... tahan ya
sayang ...tunggu tante yaa ... ",bisiknya begitu genit sekali.
Lalu dengan perlahan tante Vivi mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun secara
perlahan ... menggesekkan daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku
yang sudah ngaceng tak terkira. Seolah tidak ada hambatan walaupun terasa begitu
sesak saking sempitnya ketika kedua alat kelamin kami saling beradu dan
bergesekan.
" Uuuhh ......uhhhh .....uhhhh....", tante Vivi merintih2 kecil saat setiap kali
pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali batang penisku yang besar dan
ngaceng kedalam liang vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang2 lembut seiring
dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan diatas selangkanganku. Kedua
matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi dan menikmati persenggamaan yg
benar2 luarbiasa indah ini. Kedua buah dadanya yang besar ter-guncang2 begitu
indah bak buah kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang menyangga dan
menekan lembut dadaku menghentak-hentak pelan setiap kali pinggul tante Vivi
bergoyang pelan naik turun secara teratur.
Alamak .... Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini sendirian.
Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari yang
begitu montok dan seksi, ... begitu putih dan mulus dan kini malah sedang asyik
menggoyangkan pinggulnya yang aduhai diatas selangkanganku menikmati alat
kejantananku.
" Oohhhhhhhaahhh ....hahahhgghhhhhh .....", erangku saking enaknya. Batang
penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh daging
liang vaginanya yang luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem melek secara
bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali pinggul tante Vivi bergerak keatas
aku merasa batang penisku seakan disedot kuat daging liang vaginanya namun
begitu pinggulnya bergerak turun kebawah batang penisku seakan diremas dan
dilumat hebat oleh liang vaginanya.
.... Sukar diungkapkan dengan kata2 rasa nikmatnya ..... very-very so good ....
Umbelieveable ...lekker ...!!
" Vivi ...aaaggghhhh .... Aaahahhhgghhhh .....", erangku berulangkali keenakan.
Kedua tanganku berusaha menahan laju naik turun pinggulnya yg kurang ajar itu.
Namun jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat bokongnya yang
berat, dan tanpa ampun secara terus menerus liang vagina tante Vivi dengan
jepitannya yg luarbiasa meluluh lantakkan seluruh batang penisku seperti pisang
kepok yang tak berdaya diremas dan dipilin-pilin sampai lumat.
Aku tak sanggup bertahan meredam rasa nikmat sex yang luarbiasa itu, air maniku
sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat keluar. Tante Vivi seolah
tak mau tahu terus bergerak naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan
batang penisku kedalam liang vagina sempitnya.
" Uuuuhhh .uhhhhh .... Uuuuuhhh ..... uuuuuu...hhhh ....uuuhhhhh ....", erangnya
berulangkali menikmati alat kejantananku yang sedang berada didalam liang
vaginanya.
Aaaaaaaaahahhhhahhaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ..............", aku mengerang
panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak
sampai muncrat keluar ....
" Uuuuuuuuuh ... kamu mau keluar sayang ......", bisik tante Vivi genit.
" Iyyaaa ... Vi ...", sahutku gemas tanpa memanggilnya dengan sebutan tante lagi
.....
Ooooh .... Aku bener-bener nggak tahan lagi ....
" Hik ...hik ... oke sayang ... kamu keluar duluan Ar ... tante jepit lebih
keras yaa sayang ...", bisiknya semakin genit tanpa malu2. Aku jadi makin gemas
dibuatnya.
Tante Vivi memang benar-benar luarbiasa sambil menggoyang pinggul semakin cepat
naik turun, kurasakan daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih hebat,
batang penisku seolah diremas dan dikenyot-kenyot hebat sambil digesekkan keluar
masuk meski hanya sekitar 4 centi saja.
Oooohhh ... bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah kalah ... aku tak mampu
menahan desakan air maniku yang sudah sampai dileher batang penisku . Kuremas
gemas keduabelah payudara tante Vivi yang besar terguncang dengan kedua belah
jemari tanganku. Aku menggeram keras dan melepas puncak kenikmatan sex
...........
Aaaaaaaaaaaaaaaagggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhghghhgaaaahh hhhhhhhh ......
Teriakku nikmat ... saat dengan hebatnya air maniku muncrat keluar dengan
tembakan2 nya yang keras dan kuat ... craaatttt ......craattt .... Crruuutttt
.....craaaattttt ..... kedalam liang vagina tante Vivi yang sempit licin dan
hangat.
" Uuuuuu ..... mmmm .....uuuuu ....... Mmmm .... ..oowwww .... Banyak sekali
manimu sayangghh ... uuuu ....", desahnya lembut saat air maniku kutembakkan
berulang kali dengan sepenuh rasa nikmat kedalam liang vaginanya. Jiwaku seakan
terbang melayang jauh keatas awan .... Begitu tinggi ... terasa begitu nikmatnya
.... Oooohhhhh .... Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak
terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang vagina tante Vivi yang
menyempit hebat menggesek semakin cepat pula batang penisku yang sedang collaps
... enjakulasi, seakan milikku diurut-urut mesra sembari memuntahkan air mani
yang sangat banyak dan kental.
Crraaat .... Crruuttttt .....crraaaaaaaaaaaattttttttt ...........creeetttttt
......
Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabokkan. Aku masih terlena diawan kenikmatan
menikmati sisa-sisa semprotan air maniku yg masih tersembur keluar didalam liang
vaginanya. Tante Vivi dengan masih bersemangat menggenjot pinggulnya naik turun
dengan cepat meluluh lantakkan alat kejantananku yang benar2 sudah lumat
terkuras. Jiwaku seakan kembali terhempas keatas tanah ... seolah terlempar dari
pusaran awan kenikmatan yang terasa begitu singkat.
Aku membuka mata kembali saat kurasa tante Vivi menghentikan gerakan pinggul
seksinya yang aduhai. Kini ia merebahkan tubuhnya yg berkeringat basah diatas
tubuhku, kedua buah susunya yang segedhe melon menekan lunak dan terasa kenyal
didadaku. Batang penisku masih perkasa ngaceng 100 % walau isinya serasa sudah
terkuras habis ... jepitan daging liang vaginanya masih kurasakan begitu hebat
... meremas dan mengenyot alat kejantananku yg masih terbenam kandas didalam
situ.

Cerita seru hot: mencapai puncak orgasme setelah memainkan lobang ...
Disentuhkannya ujung lidahnya ke kemaluan Tante Lis berulang-ulang. ... dengan juga memasukkan jari telunjuk tangan kanannya yang masuk mengocok lubang pantat Tante Lis. ... gairah dua mahasiswi saling hisap jilat liang kewa. ...ceritaseruhot.blogspot.com/.../mencapai-puncak-orgasme-setelah.html Tante Yoshie
Lalu saya mulai menjilat–jilat kemaluan si Tante dengan pelan–pelan. ... meremas– remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi lehernya. ... saya memasukkan batang kemaluan saya kembali ke lubang kemaluan Tante Yossie. ...tagtag.com/17tahun/puber_kedua_01/tante_yoshie
Pesta Seks 03
Tante Nadya langsung saja menyambar lubang kemaluan yang mulai ... Sebelum Sony memasukkan batang kemaluannya, dia jilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. ... Pantat Tante Dini terus bergerak dan batang kemaluan Sony tidak tinggal ...satu23.tripod.com/cerita/ps/pesta5/1081.html Cerita dewasa hot: air maniku menyembur di memek tante ahhh..
Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tapi aku tidak ... dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Lina juga ikut-ikutan bergoyang. ... Nikmatnya saling jilat kemaluan pria..ahhh ...ceritadewasahot.blogspot.com/.../air-maniku-menyembur-di-memek-tante.html Tante Stella - Iseng Aje
2 pesan - 1 pembuatLalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan. Ogh.. ... meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. ... dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta ...forum.isengaje.com/showthread.php?t=1599 Pengalaman Bersama Tante Yossie [Archive] - Indobokepz ...
menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, ... lagi meremas–remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi ... lubang kemaluan Tante Yossie. Kali ini, dorongan saya sudah semakin kuat, ...www.indobokepz.com/archive/index.php/t-347.html Sex Foto Bugil ABG Bugil SMU Bugil SMP Bugil Tante Bugil ...
Jari jempol tangan kiri Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. ... sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nina, pantat Richard ...fridabali.com/2008/06/20/tukar-pasangan-asing/ Cerita Seks – Akibat gairah body tante sexy Bergairah.Org
Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluan Tante Linda ini sehingga agak susah ... memutar sehingga pantat Tante Linda juga ikut-ikutan bergoyang-goyang. ...bergairah.org/cerita-seks-akibat-gairah-body-tante-sexy/ Awal Menjadi Gigolo 03 « nafsu
Kujilat.., lepas.., jilat.., lepas.., kudiamkan, berulang-ulang, Tante Juliet ... Lalu tangan tante memegang penisku, dan membimbingnya ke lubang ... Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. ...nafsu.wordpress.com/2006/11/24/awal-menjadi-gigolo-03/

No comments:

Post a Comment